Berawal dari Kemauan
Krek bunyi pintu kamarku yang dibuka oleh ayah. “Ayo nak bersiap , sebentar lagi Ayah akan pergi,Ayah akan mengantarmu ke sekolah pagi ini” , “Baik Ayah , sebentar lagi Dwi menyusul “ balasku. Dengan semangat yang menggebu-gebu aku menyusul Ayahku ke depan rumah .Dengan motor andalan Ayah, aku diantar sampai depan gerbang sekolah baruku . Dengan kokohnya berdiri sebuah gapura yang bertuliskan SMP HARAPAN BANGSA “Padamu Negeri Kami Berbakti , Padamu Negeri Kami Berjanji” . Tulisan itu membuatku semakin semangat untuk masuk sekolah , “ Ayah Dwi pergi yah, Assalamualaikum” kataku sambil mencium punggung tangan ayahku , “Hati-hati nak , Ayah akan menjemputmu sepulang sekolah nanti , tunggulah di depan gapura ini “ Jawab ayahku sambil menstater motor kesayangannya.
Ku langkahkan kakiku masuk melewati gapura yang kokoh itu , “ Selamat pagi Pak” sapaku kepada seorang lelaki yang memakai baju dinas berwarna putih itu , “Selamat pagi dek , murid baru yah disini?” Tanya nya kepadaku , “ Oh iya Pak ,saya murid baru disini , saya pindahan dari luar kota ” jawab ku sambil melihat nama yang terdapat di bajunya itu , ternyata Beliau adalah Satpam di sekolah baruku ini , dan Namanya adalah Pak Azwar . “ Sudah tau kelas nya dek ? mari saya antar menuju kelas “ ujarnya sambil mempersilahkanku , “ Oh baik Pak Azwar , Saya masuk di kelas 8D pak “ jawabku sambil mengiringi langkah panjang kaki nya . “ Ini ruang kelas 8D dek “ katanya sesampainya didepan kelasku . “ Terima kasih banyak Pak Azwar telah mengantar saya” Balasku dengan senyum.
Kulangkahkan kakiku masuk kedalam kelas , seketika pandangan semua mata tertuju padaku . Seorang anak laki-laki menghampiriku , Ia menyodorkan tangannya “ Hai , namaku Adi,semoga kamu betah yah di sekolah ini “ ujarnya kepadaku, “ Hai Adi terima kasih namaku Dwi,senang berkenalan dengan mu “ jawabku membalas senyumnya . Lalu kucari tempat duduk yang kosong , kuletakan tas ranselku di meja itu .
Teng.. teng.. teng.. teng.. terdengar bunyi bel berbunyi empat kali,menandakan bahwa jam pelajaran segera dimulai . Pelajaran pertama di kelasku adalah pelajaran Seni dan Budaya . Yap pelajaran ini adalah pelajaran yang sangat aku suka dari kelas 4 SD sejak aku mengenal alat musik yang diajarkan oleh Ayahku. “Selamat Pagi anak- anak “ sapa Pak Aji guru seni budayaku “Selamat Pagi Paaaaakkk..” jawab anak -anak serentak . “ Baik anak- anak , hari ini kita akan membahas materi tentang Seni Musik “ ujar Pak Aji . “Wah kebetulan sekali materi hari ini tentang alat music “ gumamku dalam hati . “ Sebelum Bapak jelaskan , bapak mau tanya dulu , apakah ada yang bisa memainkan alat musik di kelas ini ? ayo angkat tangan “ seketika kelas yang tadinya ribut menjadi hening , tak satupun dari 30 orang siswa yang mengangkat tangannya , “ Saya Pak!” teriakku dengan kesungguhan memecahkan keheningan kelas, lagi- lagi seluruh mata tertuju kepadaku. “ Siapa nama mu nak? Tampaknya kau murid baru disini ya?” Tanya Pak Aji kepadaku “Ya Pak nama saya Dwi , saya murid baru disekolah ini “ “ Alat musik apa yang dapat kamu mainkan Dwi?” “ Ayah saya seorang seniman Pak,jadi saya diajarkan berbagai macam alat musik , tetapi saya sangat menyukai Gitar Pak” jawabku dengan semangat , “ Nah anak- anak kalian patut bangga memiliki teman seperti Dwi ini , dia memiliki keinginan untuk mempelajari alat musik , dengan mempelajari alat musik kalian sama saja berjuang untuk melestarikan seni budaya negeri kita ini”. Kulihat tatapan mata Adi , orang yang pertama berkenalan denganku tadi pagi , menunjukan tatapan mata yang sangat sinis , seolah dia tidak terima dengan pujian yang diberikan oleh Pak Aji terhadapku .
Teng .. teng .. bel istirahat pun berbunyi, aku membuka bekal yang ibu bawakan dari rumah , aku tidak pergi ke kantin , karena ibu membiasakanku untuk membawa bekal dari rumah.
“Heh Dwi , kamu anak baru pintar banget cari perhatian dari guru “ ujar Adi dengan nada yang menyentakku , “ Tidak Adi , aku tidak bermaksud mencari muka di depan guru , aku hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh Pak Aji” jawabku , “Alah kamu alasan saja , tidak ada yang boleh menandingiku di kelas ini” balasnya dengan sombong “ Baiklah , maafkan aku , aku tak bermaksud untuk menandingi mu Adi”
Keesokan harinya , Aku di panggil oleh Pak Aji , aku sangat kaget kupikir Adi melaporkanku kepada Pak Aji. “Dwi , bisakah kamu ikut dengan Bapak ke ruang alat musik?” pinta pak Aji terhadapku , huuft lega , ternyata Adi tidak melaporkanku kepada Pak Aji,”Oh tentu bisa Pak , apakah Bapak ingin mendengar permainan musik saya?” “ Ya Dwi , kepala sekolah dan guru- guru lain ingin mendengar permainan musikmu , mari ikut Bapak” “Baik pak , saya akan menampilkan yang terbaik”.
Jantungku berdegup cepat , peluh melintas disela bagian- bagian tubuhku . Ya, aku sangat gugup tampil di depan guru- guru,apalagi aku murid baru di sekolah ini . Tapi aku yakin , dengan bekal pengalaman dan kebiasaanku memainkan alat musik setiap hari aku pasti bisa untuk memainkannya di depan para guru. Sesampainya di ruang alat musik , aku melihat begitu banyak alat musik tradisional maupun modern di ruangan ini , sungguh aku tidak salah memilih sekolah dengan fasilitas yang lengkap ini.
“Ini Dwi , kamu bisakan memainkan gitar ?” Tanya Pak Aji sembari memberikan sebuah gitar yang tampak berdebu. Sepertinya ruangan alat musik ini jarang dipakai , terlihat jelas sekali hampir semua alat musik di ruangan ini terbalut oleh debu yang sangat tebal. “ Bisa pak , saya akan memainkannya untuk guru- guru di sini” jawabku dengan penuh keyakinan. Ku posisikan gitar itu ditanganku ,lalu kupetik senar gitar dengan jari jari lentikku diiringi dengan suaraku sendiri yang kuanggap lumayan merdu . Seketika seluruh mata tertuju padaku , seakan mereka terhipnotis mendengar setiap alunan nada yang kupetik. Aku sungguh tak menyangka bahwa guru guru sangat menikmati permainan musikku ini. Setelah selesai seluruh guru dan teman- teman yang mengintip di jendela memberikan tepuk tangan yang sangat meriah terhadapku. Aku sangat gugup , kudapati Adi yang juga mengintip di jendela memberikan tepuk tangan kepadaku , “Akhirnya Adi tidak marah lagi terhadapku” gumamku dalam hati.
“Nak , apakah Ayahmu seorang seniman ?” Tanya kepala sekolah kepadaku , “ Iya Pak,Ayah saya seorang seniman beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana menggunakan alat musik pak” jawabku.” Hmm.. Begini nak Dwi , di sekolah ini perkembangan seni budayanya sangat kurang , kami telah menyediakan berbagai macam alat musik untuk memfasilitasi pelajaran seni budaya , tetapi anak- anak sekolah ini sebagian besar tidak tertarik terhadap alat musik, mereka menganggap ini dalah hal yang membosankan, mereka lebih banyak menggunkan lab komputer yang disediakan di sekolah ini juga , maksud Bapak memanggilmu dan menyuruhmu untuk memainkan alat musik tadi bertujuan agar anak- anak sekolah ini tidak lagi menganggap bahwa seni budaya yang kita miliki ini bukanlah hal yang membosankan. Bapak ingin mengajak Ayahmu untuk bekerja sama dengan sekolah ini , kami akan membuat suatu ekstrakulikuler yang berkaitan dengan alat musik, Tolong sampaikan kepada Ayahmu yah nak Dwi , jika Ayahmu berkenan , maka Ayah mu kami tunggu kedatangannya besok ke sekolah untuk membicarakannya lagi” Jelas Pak kepala sekolahku , “ Baiklah Pak , Ayah saya pasti akan menerima permintaan Bapak , karena ayah saya sangat senang membagi ilmunya dengan sesame, akan saya sampaikan kepada Ayah saya, terima kasih Pak , saya permisi dulu” pamitku kepada kepala sekolah
Malam harinya , aku menjelaskan permintaan Pak kepala sekolah kepada Ayah, beliau sangat antusias dan langsung menerima permintaan kepala sekolahku.
Pagi harinya , aku bersama Ayah pergi ke sekolah , kehadiran Ayahku disambut hangat oleh kepala sekolah , setelah menjelaskan panjang lebar tentang tujuan ekskul ini , maka sepakatlah bahwa ekskul akan di mulai sore ini juga. Kepala sekolah telah mengumumkan kepada semua siswa , dan sangat banyak siswa yang ingin bergabung di ekskul ini.
Hari- hari dan bulan pun cepat berlalu , ekskul ini sangat banyak peminatnya dibandingkan dengan ekskul lain. Kini anak anak yang dulunya menganggap bahwa seni itu membosankan sekarang mereka telah berubah pikiran , “Dwi ! karnamu dan Ayahmu sekolah ini sekarang lebih banyak mengenal seni , maafkan aku ya , dulu aku menuduhmu mencari muka di depan guru , sekarang kami lebih mengerti betapa pentingnya kita melestarikan seni dan budaya negeri kita ini” ucap Adi terhadapku ,” Iya Adi , ini juga berkat kemauan kalian untuk mempelajari seni dan budaya yang kita miliki , sekarang seni itu tidak membosankan bukan ?”.
Berbagai perlombaan seni diikuti oleh sekolah ini , anak- anak sangat antusias dan bersemangat untuk mengikuti setiap lomba , tak ayal jika sekolah ini selalu mendapat juara umum dalam perlombaan. Yang dulunya murid- murid di sekolah ini hanya suka mengunjungi lab komputer , sekarang mereka lebih sering memainkan alat musik yang berada di ruang alat musik. Sekarang ruang alat musik yang dulunya dibalut oleh debu yang tebal menjadi ruangan yang tertata rapih dan bebas dari debu , Bahkan sekarang sekolah ini memiliki 2 Band , yaitu band tradisional yang menggunakan alat musik tradisional dan band modern yang menggunakan alat musik masa kini.
Seni dan Budaya yang ada di negeri kita harus kita jaga dan kita lestarikan agar tidak di klaim oleh orang- orang yang tidak betanggung jawab. Kalau bukan kita yang melestarikan , Siapa lagi ?
Komentar
Posting Komentar