Dibalik Kekuranganku



Fajar baru saja beranjak pergi , membawa serta langit subuh yang gelap. Mendatangkan matahari yang tak bosan- bosannya menampakkan diri dipagi hari. Terdengar alunan nada ayam berkokok yang membuat orang- orang terbangun dari tidur lelapnya. Aku segera beranjak dari tempat tidurku disertai dengan teman sejatiku yang selalu menemani hari- hari yang ku lewati , sepasang tongkat kayu yang selalu membantuku untuk berdiri tegak dan menjalani hari hariku.

Namaku Setyo, Aku dilahirkan tanpa sepasang kaki . Aku terlahir di keluarga yang ekonominya pas pasan. Ayahku seorang kuli yang kerjanyapun tak pasti , jika ada yang memanggilnya untuk bekerja Beliau segera bergegas seolah tak ingin kehilangan kesempatan itu.  Dan, Ibuku hanya seorang buruh cuci sama seperti Ayahku yang bekerja jika hanya ada panggilan saja dari orang yang membutuhkan jasanya.  Mereka selalu mencari uang tambahan untuk biayaku sekolah. Aku sangat bangga memiliki orang tua seperti mereka yang tidak pernah kenal lelah agar anaknya bisa merasakan mengenyam pendidikan , bukan seperti mereka yang SD saja tidak lulus karena keadaan ekonomi yang tak memadai.
 Pagi ini aku siap untuk pergi sekolah , yah walaupun aku bersekolah tidak seperti anak- anak kebanyak- an yang memakai sepatu . Kuraih tas biruku yang tergantung didinding dan kumantapkan hati bahwa aku bisa menjalani hari ini dengan baik. Setelah keluar dari kamar , Aku tak sengaja mendengar perbincangan Ayah dan Ibuku.
“Bu, anak-anak kita masih pada kecil , semoga saja usaha kita untuk menyekolahkan Setyo tidak sia-sia ya Bu, supaya Dia kelak besar nanti bisa menyekolahkan adik –adiknya”  Ujar Ayahku sambil merangkul pundak Ibu.
“Iya Pak, somoga kita masih diberikan umur panjang oleh Gusti Allah dan anak-anak kita bisa jadi orang sukses ya Pak. Agar  tidak bernasib sama seperti kita, mencari uang untuk makan sehari-hari saja susah” Jawab Ibuku yang menyandar dipundak Ayah.
Hatiku sangat terenyuh mendengar pembicaraan Ibu dan Bapak , ternyata mereka mengharapkanku menjadi orang yang sukses agar dapat membiayai adik-adikku yang masih kecil. Kulirik jam dinding telah menunujukan pukul 06.45 . Segera aku mendatangi Bapak dan Ibu dan mencium punggung tangan mereka.  “Ya Allah semoga aku bisa membanggakan kedua orang tuaku” Gumamku dalam hati seraya mengucapkan salam kepada mereka.
Sesampainya disekolah , Aku menaruh tas diatas mejaku dan meletakkan ‘teman sejatiku’ disamping kursi yang kududuki. Disekolah aku hanya murid biasa , bukan seperti teman- temanku yang terkenal. Walaupun aku cacat tapi semangatku untuk belajar tidak pernah surut, apalagi setelah mendengar perbincangan Bapak dan Ibu tadi.
Tiba -tiba Jony teman sekelasku yang terkenal karena kegantengan dan kekayaannya hingga pelosok sekolah menghampiriku .“Hai bro , Lu udah belom PR matematika? Gue belom nih , Gue nyontek punya Lu ya” Ujar Jony. “Eh Jony , udah sih …” Belum selesai aku menjawab pertanyaannya buku matematikaku sudah diambil dan dibawa lari olehnya . “Huft Jony Jony “ Gumamku dalam hati.
Teng.. Teng .. Teng.. Teng…
Bunyi bel sekolah yang menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Setiap ketua kelas terlihat sibuk mengatur anggotanya untuk berbaris . Hal ini sudah biasa terlihat jika bel masuk sudah berbunyi. Dengan tongkat yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi , aku segera mengambil tempat untuk berbaris. Teman -temanku menjauhiku , mungkin karena mereka malu memiliki teman yang cacat sepertiku , yang pergi kesekolah tidak memakai sepatu seperti mereka. Tetapi aku tak pernah ambil pusing untuk hal ini, tapi aku akan buktikan bahwa aku bisa seperti mereka ,bahkan lebih dari mereka.
Jam pelajaran hari ini adalah Matematika. Aku sangat suka pelajaran ini, gurunya pun baik dan menjelaskannyapun mudah dimengerti. “Selamat pagi anak anak” Sapa Bu Yanti . “Selamat pagi Bu…” Jawab anak anak dengan serentak. “Baik anak anak , sekarang kumpulkan PR kalian” . Aku baru ingat kalau buku PR ku dipinjam oleh Jony dan belum dikembalikannya. “Jon , buku matematikaku mana?” Tanyaku kepada Jony . “Oh sorry ya, tadi waktu Gue lari bukunya jatuh di got dekat Wc terus basah deh yaudah Gue buang aja” Jawab Jony dengan nada santai seolah tak bersalah. Mendengar perkataan Jony , Aku seakan disergap rasa takut , takut dihukum karena tidak mengumpul buku tugas. “Setyo, mana buku PR mu ? Kamu tidak mengerjakan PR ya ? Tanya Bu Yanti terhadapku. “ Engg… ngerjakan kok Bu , tapi tadi…” Belum sempat aku menjawab pertanyaan Bu Yanti , tangan Jony langsung mencubit pahaku. “Apa Setyo? Kamu tidak mengerjkankan? Sekarang Kamu belajar diluar!” Sentak Bu Yanti dengan nada keras.  Dengan muka lemas, aku segera menuruti perintah Bu Yanti, hanya ‘teman setia’ku yang selalu menemaniku disaat aku senang maupun sedih.
Teng.. Teng.. bel istirahat pun berbunyi. Bu Yanti menghampiriku dan meminta maaf padaku karena telah kasar terhadapku , ternyata Ia sudah tau bahwa bukuku di rusak oleh Jony. “Setyo , Ibu lihat Kamu pintar dalam bidang matematika . Minggu ini akan ada olimpiade Matematika tingkat provinsi , Kamu ikut ya?” Tawar Bu Yanti kepadaku . Dengan hati berdebar aku sangat ingin mengiyakan tawaran Bu  Yanti .” Baik Bu , Saya akan mengikuti olimpiade tersebut , Insyaallah Saya dapat membawa nama baik sekolah”.
Sepulang sekolah aku memberitahukan kepada Ibu kabar gembira ini . Ibu sangat bangga mengetahui anaknya akan mengikuti olimpiade matematika se- provinsi . Ibu memelukku dengan derai air mata dipipinya segera ia menyeka air mata itu . “Nak , Ibu sangat bangga padamu , Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu . semoga Kamu berhasil ya dalam olimpiade itu” . “Iya ibu , terima kasih banyak dukungannya , tanpa Ibu dan Ayah pasti Setyo juga tidak bisa sekolah dan seperti ini” jawabku sembari membalas pelukkannya dan mencium pipi Ibu.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya . Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku , aku akan bertarung melawan ratusan anak dari kabupaten kabupaten lain.  Ditempat pelaksanaan olimpiade, puluhan bahkan ratusan pasang mata memerhatikanku dengan pandangan meremehkan. Aku yang ditemani oleh Bu Yanti sangat malu , tetapi Bu Yanti memberiku semangat melalui sebuah kalimat “ Hidup itu akan terus berjalan walaupun salah satu anggota tubuh kita sudah tidak berfungsi”. Kata kata itulah yang menjadi motivasi hidupku.
Beberapa hari setelah olimpiade matematika itu berlangsung . Hari ini adalah hari pengumuman pemenang yang akan mewakili provinsinya ke tingkat nasional . Hatiku sangat deg- degan menunggu hasil pengumuman yang ada pada Bu  Yanti . “Setyo…” Sapa Bu Yanti kepadaku . “Iya Ibu , bagaimana pengumumannya ? siapa yang menjadi pemenang Bu ?” Tanya  ku kepada  Bu  Yanti . “Selamat ya Setyo , Kamu satu satunya murid yang mewakili provinsi kita ke tingkat nasional , dan Kamu telah membawa nama baik sekolah kita” Jawab Bu Yanti . Aku sangat tidak percaya dengan kata kata Bu Yanti barusan. “ Alhamdulillah Bu , ini berkat dukungan yang Ibu beri kepada Saya , dan tentunya doa dari Ibu dan Bapak” Jawabku dengan muka yang masih tidak percaya. “ Besok Kamu akan pergi ke Jakarta untuk mengikuti olimpiade selanjutnya” balas Bu Yanti. Dengan hati gembira , aku tak sabar ingin segera memberi tau kepada Ibu dan Bapak bahwa aku lolos ke tingkat nasional.
Sesampainya didepan rumah . Kulihat rumah sangat ramai tak seperti biasanya , Hatiku tak karuan bertanya tanya ada apakah yang terjadi . Segera aku ayunkan tongkat kayuku dengan cepat  kedalam rumah dan kulihat Bapak sedang menunduk dan menitikan air matanya. “ Pak Pak , apa yang terjadi ? Ibu mana Pak Ibu mana ? Setyo punya kabar gembira buat Ibu dan Bapak” Ujarku dengan rasa tak karuan. “Nak , Ibu sudah pergi nak , Ibu pergi meninggalkan kita untuk selamanya . tadi Ibu sewaktu bekerja dirumah Bu Sinta terpeleset dikamar mandi dan kepalanya terbentur langsung tak sadarkan diri “ Jawab Bapak dengan bercucuran air mata. “ Tidak  tidak mungkin ini terjadi Pak , Pak Setyo lolos sleksi olimpiade, dan Ibu yang memberi Setyo semangat . Dan kemenangan Setyo ini Setyo persembahkan untuk Ibu dan Bapak” Ujarku dengan derai air mata . Tak kuasa menahan kesedihan ,kurangkul Ayahku dan adik adikku. “ Kak, ini tadi Nadia temukan surat dari Ibu untuk Kakak di kamar Ibu” Ujar Nadia adik perempuanku . Dengan berlinangan air mata segera aku buka surat itu .
Setyo anakku sayang, Jaga adik adikmu ya nak.
Ibu mau pergi bekerja dan mungkin akan pulang agak lama
Ibu sudah masakkan makanan kesukaan kalian .
Tadi Ibu membelikan tongkat baru untukmu .
Semoga kamu suka ya nak .
Tadi ibu bertemu Bu Yanti, Katanya kamu menang olimpiade ya nak?
Selamat ya anakku .Itu adalah hadiah terindah untuk Ibu.
Jalani hidupmu dan syukuri apa yang telah Tuhan berikan.

jangan tunggu ibu pulang …

Derai air mata  tak kuasa aku bendung setelah membaca surat itu . Ternyata aku telah memberikan kado terindah untuk Ibu . “Bu , Setyo janji akan menjadi seperti  yang Ibu dan Bapak harapkan” Gumamku dalam hati.
Esok paginya aku harus segera berangkat ke Jakarta . Berat rasanya meninggalkan Ayah dan adikku  yang masih dalam keadaan duka . tapi aku harus pergi . aku ingin memberikan hadiah yang lebih indah untuk Ibu. Diperjalanan aku terus meningingat kenangan yang pernah aku lalui dengan Ibu . Saat aku dipeluk oleh Ibu dan Ibu memberikan semangat kepadaku . Tapi sekarang tidak ada lagi sosok itu.
Waktu berjalan begitu cepat , hingga tibalah hari pengumuman yang akan mewakili Negara ke tingkat internasional. Setelah menunggu lama dan akhirnya pengumumanpun dibacakan. Dan aku menjadi salah satu dari 4 orang lainnya yang terpilih untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat internasional.  “Bu, Kemenangan ini Setyo persembahkan untuk Ibu yang selalu memberi semangat kepada Setyo . Untuk Ibu yang menjadi tiangku bertahan sejauh ini”

 Dukungan keluargaku terutama Ibuku dalam berbagai bentuk akan terus menjaga langkahku untuk tak berhenti apalagi menyerah. Jadilah diri sendiri yang menghargai kemampuan yang kita miliki . Jangan putus asa sebelum kita mencoba dan jalani hidup ini walaupun ada kekurangan yang kita miliki , karena dibalik kekurangan itu ada  1000 kelebihan yang kita miliki dan perlu kita gali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOJI CAFE Samarinda

Kamu...

Berawal dari Kemauan