Batu Kerikil
Terkadang,
hidup ini penuh dengan lelucon. Hanya dikunjungi saat dibutuhkan, hanya
ditengok ketika teringat dan hanya digenggam ketika terjatuh. Pada suatu lini,
aku lebih memilih untuk menjauh dari dia yang aku cinta, bukan karena aku lelah
berjuang, bukan pula karena aku diabaikan, tapi karena aku manusia yang
mempunyai naluri untuk melindungi diri dari luka.
Ketika
kekosongan menyelimuti, rasa sakit datang bertubi-tubi, aku hanya ingin
bersembunyi dibalik selimut tebal dan berharap ia dapat melindungiku dari duri
kepedihan. Tetapi ketika mentari datang menyapa kembali dan aku keluar dari
balik selimut, hatiku terasa kebal akan segala kesakitan yang datang. Aku
beranggapan bahwa rasa sakit hati itu indah, rasa sakit hati itulah yang memberikan
sensasi bahwa aku memang masih hidup, rasa sakit ini membuktikan bahwa aku
adalah manusia yang masih bisa merasakan luka, karena hanya batu kerikil yang tidak dapat merasakan
sakitnya cinta, ditendangpun ia akan acuh dan tak peduli siapa yang telah menendangnya.
Hati ini
lebam, ia tidak remuk. Hatiku cukup kuat untuk menerima serangan yang tak
henti-hentinya menusukan pisau hingga menembus relung hati ini. Aku tidak akan
mengganggumu lagi, sesuai dengan permintaanmu. Diam saja, jangan campuri caraku
untuk melenyapkanmu dari ingatanku. Memperhatikanmu akan segera aku hilangkan
dari rutinitas sehari-hariku, karena aku merasa kamu telah mendapatkan wanita
yang cukup memperhatikanmu, aku rasa aku tidak dibutuhkan lagi. Lama-kelamaan,
pelan-pelan, kita akan saling melupakan. Kenangan akan terkubur dalam ingatan
memori otak dan untuk mengingatnya lagi harus dibayar dengan luka yang lebih
besar, lebih baik ia dibuang jauh.
Aku tidak
mau melarangmu untuk sesekali mengingat kenangan itu, itu perlu untukmu agar kamu
tau bahwa belajar berjuang itu tidak mudah. Jatuh dan bangkit, terkoseh-koseh
ditanah itu hal yang wajar bagiku saat itu. kamu harus tau, aku pernah
berjuang, tapi disia-siakan.
Mungkin
dengan tulisan inipun kamu akan selalu menganggap bahwa dirimulah yang paling
tersakiti. Kamu salah, kita berdua sama-sama saling menyakiti. Kamu mungkin
sudah terlalu hapal alasan apa yang membuatmu merasa sakit. Tapi apakah kamu
tau alasan apa yang membuat aku sakit ?. Kamu menghancurkan mimpi yang telah ku
rangkai dengan indah dan teliti, menyebrangi samudra pun kamu tidak akan mampu
membuatnya kembali seperti semula.
Luka
membuatku lebih kuat, ketakutan membuatku lebih berani, dan patah hati
membuatku lebih bijak mencintai. Kamu berpikir aku berubah, padahal kamu tidak
pernah mengenal diriku yang sebenarnya. Hatiku mengatakan aku harus bertahan,
tapi aku lelah terus memakai perasaan ini sedangkan kamu selalu memakai
logikamu, baiklah aku akan ikuti caramu, ketika otakku mengatakan aku harus
berhenti, saat itu juga aku berhenti.
Aku tidak
akan pernah menunggu lelaki yang membiarkan cinta ini menua tanpa kejelasan.
NK
Komentar
Posting Komentar