Kapal dan Pelabuhan.



Indahnya laut selalu membuatku mengingat Sang Pencipta. Biru kehijauan adalah warna khasnya, ombak putih menggulung yang turut menyempurnakannya. Burung camar terbang kesana kemari mencari mangsa. Suara kapal berderu bersautan dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Stik-stik pancing berjajar disalah satu kapal, lengkap dengan lelaki-lelaki yang memegangnya sambil menunggu peruntungan umpannya di sambar ikan.

Aku bagaikan kapal, yang terikat dipelabuhan. Setiap kapal memiliki satu pelabuhan untuk bersandar dalam satu waktu. Memiliki nahkoda dan memiliki para awak kapal agar ia tetap bisa berlayar mengarungi samudra, agar ia siap menghadapi badai dan ombak yang ganas.

Aku bagaikan kapal yang terombang-ambing dilaut setelah dikhianati kapal pembawa bahan bakar. Seharusnya ia mengisi bahan bakarku dan sama-sama menuju pelabuhan. Ternyata ia menkhianatiku dengan cara mengambil semua bahan bakarku. Aku, dibiarkannya terombang-ambing dilaut lepas. Sendiri, kedinginan,dan hanya berteman dengan sepinya lautan luas. 

Aku bagaikan kapal tua yang dibuang dan hanya tinggal menunggu waktu pengangkut besi tua. Dibuang setelah tidak dibutuhkan, diabaikan setelah diperhatikan, dicela setelah diindahkan dan dikhianati setelah dicintai. Aku kenyang dengan pengindahanmu kemarin, kini akupun kenyang dengan pencelaanmu. 

Apalah arti sebuah kapal tua kalau dibandingkan dengan kapal baru yang begitu jauh lebih cantik dan indah. Tapi, apalah arti sebuah kapal baru yang belum teruji kekokohannya dan belum teruji kekuatannya dibandingkan dengan kapal tua yang sudah pernah terombang-ambing dilaut lepas, mencari sendiri pelabuhan untuknya bersandar,  akan seberani itukah kapal baru ?

Karat dan cat yang sudah mengelupas menghiasi badan kapal tua dari sisa-sisa perjuangannya. Andai mereka dapat berbicara, pasti mereka akan mengeluh dengan kuatnya air laut yang menggerus indah tubuhnya.  Kapal tua hanya bisa terdiam dan tersenyum saat melihat kapal baru dibangga-banggakan. Dulu, ia juga seperti itu hingga saatnya tiba, sekarang ia diacuhkan hanya karena ia sudah usang dan tidak cantik lagi.

Tak ada seorangpun yang mau menoleh lagi kepada kapal tua. Orang-orang tidak melihat pengorbananya saat ia harus melewati badai demi menyampaikan sebuah kebahagiaan untuk orang banyak. Perjuangan  menyatukan orang yang ingin bersua dengan kekasihnya dan menyatukan pulau-pulau yang jauh, kapal tua akan selalu mengingat saat-saat itu. Baginya asalkan ada kapal bahan bakar, ia akan terus menyatukan orang-orang yang ingin bersua. Semua itu berubah setelah pengkhianatan yang ia terima dari kapal bahan bakar.

Kapal yang baru tidak akan pernah bisa menyamai perjuangan kapal yang lama. Angkuh pun rasanya tak pantas bagi kapal bahan bakar. Karena pengkhianatan , akan selalu menjadi sejarah yang tak terlupakan bagi kapal yang lama.

Hingga waktunya tiba, sebuah kapal militer meminta kapal yang lama untuk mendampingi perjalanannya. Rasanya tak pantas jika kapal lama menolak permintaan kapal yang telah membuat dirinya dihormati lagi. Lantas, rasa sesal akan sirna begitu saja, membuat kapal lama melupakan pengkhianatan kapal pembawa bahan bakar terhadap dirinya.

Kini, kapal yang lama tidak usang lagi. Karat dan cat yang mengelupas berubah menjadi dinding yang kokoh dengan sentuhan warna yang lebih indah dari sebelumnya. Ternyata, perjuangan yang panjang dan melelahkan akan membuahkan hasil yang indah. Kata penyesalanpun tidak pantas terucap dari seorang pengkhianat yang menganggap dirinya bisa hidup tanpa orang lain. Karena sejatinya, semua yang ada di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan.

Akhir dari kesedihan, akhir dari sebuah perjuangan yang melelahkan dan akhir dari semua cerita yang pernah ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOJI CAFE Samarinda

Kamu...

Berawal dari Kemauan